• Jum'at, 27 Mei 2022
logo
DPRD Provinsi Kalimantan Timur

Diskominfo Kabupaten Kutai Kartanegara



Sudarmaji saat berbincang dengan Sekda Sunggono.


TENGGARONG, (KutaiRaya.com) Di era teknologi yang mulai berkembang, pengolahan padi saat ini telah dipermudah salah satunya dengan adanya Rice Milling Unit (RMU) di Desa Loh Sumber, Kecamatan Loa Kulu yang didirikan oleh Direktur BUMDES Sudarmadji.

Direktur BUMDes Sumber Purnama Sudarmadji, menjelaskan awal mula berdirinya pabrik ini, ide pembangunan muncul karena harga jual gabah kerap anjolok dan persaingan pasar yang marak, kemudian BUMDes membangun RMU di Desa Loh Sumber pada Juli 2021.

"Tidak mudah mendirikan pabrik ini, masalah paling besarnya adalah modal pembangunan. Untuk itu kami mencari investor. Harapan muncul setelah sebuah Bank milik negara menyatakan bersedia menjadi pemodal. Pengelolaan pabrik ini dilakukan dengan mekanisme kerja sama" kata Sudarmadji kepada media usai peresmian RMU Kamis (25/11/2021).

Ia mengatakan peralatan dan desain mesin RMU dirakit sendiri oleh BUMDes. Secara teknis, pabrik ini mampu mengolah gabah kering menjadi beras sebanyak 1 ton per jam. Dengan demikian, permasalahan yang dihadapi para petani pascapanen yakni sering kelimpungan menggiling padi, diyakini bisa teratasi.

Sudarmadji menyebutkan membeli gabah dari petani di atas harga rata-rata.
Saat ini RMU di Desa Loh Sumber memiliki dua karyawan. Beras yang diproduksi pabrik disebut memiliki kuwalitas yang baik. Pabrik tersebut memiliki luas lahan untuk memenuhi kapasitas produksi sebesar 1.000 hektare. Pada 2022 nanti, lahan tersebut diperluas sampai 2.000 hektare.

Lanjutnya biaya membangun RMU adalah Rp 1 miliar. Mengenai biaya perawatan pabrik, diperkirakan butuh Rp 400 juta per tahun. Adapun sumber pendapatan BUMDes Sumber Purnama, yakni membeli gabah petani kemudian diolah menjadi beras dan menjualnya ke pasar. Agar pabrik bisa terus beroperasi, BUMDes berkerja sama dengan para ahli pertanian dan sejumlah kampus di Kaltim.

"Untuk varietas beras yang diproduksi BUMDes antara lain mikongga, mayas, invari, dan pandan wangi. Beras kemudian dikemas. Kemasan 2 kilogram dijual seharga Rp 20.500. Sedangkan kemasan 5 kilogram harganya Rp 50.000. Wilayah pemasarannya di Kukar, Samarinda, hingga Balikpapan," ujar Sudarmadji.

Sementara itu Ketua Kelompok Tani Nelayan Andalan (KTNA) Nasional, Ir Mohammad Yadi Sofyan Noor, mengaku sangat senang sekaligus bangga dengan berdirinya pabrik RMU. Ia pun menyampaikan terima kasih kepada BUMDes Sumber Purnana yang mau dan berani membangun pabrik penggilingan padi.

"Selama ini, pemilik pabrik beras mayoritas perusahaan swasta. Namun kali ini dimiliki oleh desa. Ini adalah sebuah inspirasi yang baik untuk warga Kukar," katanya.

Menurutnya pertanian adalah bisnis yang sangat menjanjikan bila kapasitas produksi terpenuhi, pengolahan berjalan baik, dan pangsa pasar terjaga. Oleh sebab itu, dengan adanya RMU, ia optimistis pertanian Kukar akan berjalan baik. Ia pun menyatakan akan memasukan inovasi RMU ini ke program nasional agar bisa dicontoh daerah lain.

Kemudian sambung Sudarmadji, peralatan penggilingan padi yang dikonsep dan dirakit secara otodidak, merupakan invoasi yang amat bijak. Bila alat-alat tersebut dibeli dari perusahaan swasta, harganya bisa mencapi Rp 1 miliar per unit.

Ia mendorong Pemkab Kukar membantu mempatenkan peralatan RMU tersebut.
"Di daerah lain, hanya perusahaan swasta dengan ekonomi menengah ke atas yang berani membangun pabrik seperti ini. Jadi, saya sangat salut dengan apa yang dilakukan teman-teman ini. Luar biasa," tutupnya. (*dri/adv)

Pasang Iklan
Top