• Rabu, 08 Desember 2021
logo
DPRD Provinsi Kalimantan Timur

Diskominfo Kabupaten Kutai Kartanegara



Supian pengrajin alat musik tradisional Tenggarong.

TENGGARONG,(KutaiRaya.com)- Dua tahun sudah, produksi alat alat kesenian tradisional milik Supian, yang berada di kawasan Jalan Gunung Sentul RT 38 Kelurahan Melayu Kecamatan Tenggarong-Kutai Kartanegara stop untuk sementara waktu.

Ya, penyebabnya tak lain karena memang kondisi pandemi Covid-19, banyak pembatasan aktivitas normal masyarakat untuk memutus mata rantai penyebaran kasus Covid-19, imbasnya pun berdampak ke usaha masyarakat, pemesanan kerajinan jadi menurun, bahkan sepi sama sekali.

"Sepi pemesanan, sehingga selama corona kami tidak memproduksi, hanya melayani servis alat musik saja," kata Supian, saat ditemui media ini, Kamis (30/9/2021).

Bergelut pada usaha pembuatan alat musik tradisional itu, sudah ia lakoni cukup lama. Supian menceritakan selama wabah virus corona menyerang sekitar akhir 2019 lalu, kondisi produksi alat musik masih bisa dikatakan normal, banyak orderan, bahkan dari instansi pemerintahan pun kerap pemesan di bengkel kerajinan miliknya.

"Saya sebenarnya sudah lama menjalani usaha ini, yakni sejak 2004 lalu, waktu itu bahkan masih menggunakan alat alat sederhana, manual. Namun pada kisaran 2010 ada peremajaan alat alat untuk membuat kerajinan," tuturnya.

Orderan untuk pembuatan alat alat musik tradisional pada saat kondisi normal, cukup banyak, bukan hanya orang pribadi dan instansi dari pemerintahan di Kukar, namun dari luar Kukar cukup banyak,misal dari Kota Bontang, Malinua, Tanjung Selor, Grogot.

"Bahkan pernah pemesan dari provinsi Kalimantan Tengah," terang Supian.

Kerajinan alat musik tradisional meliputi hasil karyanya itu meliputi gendang Kutai, gendang Dayak, gendang tator, gendang Jawa, termasuk alat musik khas Kutai gambus, sampe. Rebana, kenong, gong, klentangan. "Insyaallah kalau alat musik tradisional kami semua tersedia disini."ujarnya.

Selama menjalani usaha kerajinan Supian mengaku menemui beberapa kendala, seperti misalnya bahan susah didapat seperti bahan kuningan harus pesan dari Jawa, bahan kayu untuk gendang masih tersedia di daerah Kalimantan timur, tetapi lokasinya jauh, sehingga memakan waktu dan biaya.

"Kalau ada pesenan mendadak kami memesan dari Jawa. Jenis kayu yang digunakan yaitu mahoni, nangka, kayu Meranti, dan khusus untuk sampe kita menggunakan kayu arow."katanya.

Sementara untuk harga, untuk gendang Rp 1,2 juta sampai 1,5 juta per satu gendang dan untuk gambus dan sampe dipatok harga standar Rp1,5 sampai Rp 2 juta. Untuk rebana sendiri tergantung jenis kayunya 3,5 juta ada yang 5 juta, untuk gong 2 juta sampai 5 juta.

"Harapan kedepannya kami memohon kepada pemerintah daerah untuk membantu, minimal membantu memasarkan produk kami," tutup Supian, dan semoga pandemi ini segera berakhir sehingga aktivitas masyarakat kembali normal, perekonomian meningkat lagi. (*and)

Pasang Iklan
Top