• Jum'at, 27 Mei 2022
logo
DPRD Provinsi Kalimantan Timur

Diskominfo Kabupaten Kutai Kartanegara



(dr. Martina Yulianti saat memantau kondisi pasien yang dirawat di RSUD AM Parikesit melalui CCTV)


TENGGARONG (KutaiRaya.com) - Kasus terkonfirmasi positif Covid-19 di Kukar khususnya pada pandemi gelombang kedua terus meningkat. Dari data terbaru per tanggal 22 Juli 2021, penambahan positif sebanyak 180 sehingga total yang masih dirawat 2.805 orang dan jumlah pasien yang meninggal bertambah 10 orang, maka total pasien terkonfirmasi positif Covid-19 yang meninggal dunia sebanyak 354 orang.

Dengan kondisi saat ini, Kepala Dinkes Kukar yang juga menjabat Plt. Direktur RSUD AM. Parikesit dr. Martina Yulianti mencurahkan pendapatnya melalui postingan di akun FB pribadinya.

Dalam tulisannya ia mengatakan, bahwa pada pandemi gelombang kedua yang ditengarai oleh varian baru virus corona, pihaknya dan seluruh tenaga kesehatan (Nakes) berjuang dengan segala sumberdaya yang dimiliki untuk dapat menangani lonjakan pasien COVID-19 yang diluar perkiraan kita semua. Pada gelombang kedua ini, penularan sangat cepat terjadi dan perburukan penyakit juga terjadi sangat cepat, sehingga pasien yang meninggal sangat banyak dibanding Pandemi gelombang pertama.

"Saat ini Pemerintah Daerah telah melakukan berbagai upaya untuk memutus mata rantai penularan dengan menerbitkan kebijakan-kebijakan untuk kepentingan publik. Dan tak lupa kami juga berterima kasih atas niat baik dan komitmen yang tinggi dari Pemerintah Daerah dalam hal penanggulangan pandemi di Kukar," tuturnya.

"Saya dan teman-teman Nakes bertugas digarda depan sekaligus menjadi benteng terakhir penanggulangan Covid-19, karena kami bersama teman-teman Puskesmas melaksanakan kegiatan Tracing dan Testing, serta bersama Rumah Sakit melaksanakan kegiatan Testing dan Treatment. Dengan demikian, praktis saya terjun dalam penanganan pandemi ini mulai dari seseorang baru menjadi Kontak Erat (suspek) sampai seseorang mungkin mengalami kejadian buruk (mengalami COVID berat-kritis sampai meninggal dunia)," terangnya.

Ia mengaku, sehari-hari dirinya menyaksikan masyarakat yang tertular Covid-19 ini karena berbagai sebab dan kondisi. Penderitaan yang mereka alami dari yang ringan sampai yang meninggal dunia. Ada yang tertular karena memang ceroboh tidak mau melaksanakan Protokol Kesehatan, namun banyak juga yang tertular karena menjadi kontak erat dari seseorang anggota keluarga atau teman yang ceroboh terhadap Prokes.

"Karena tidak mungkin ber-PROKES didalam rumah, sehingga jika ada seorang dari anggota keluarga yang ceroboh diluar, dialah yang akan membawa virus ke keluarga tersebut. Ini yang menyebabkan klaster keluarga. Saya juga menyaksikan bagaimana rekan-rekan saya para Nakes berjuang dalam penanganan pasien, mereka memenuhi panggilan jiwa sebagai insan kesehatan meskipun bisa saja membuat mereka tertular, lalu sakit bahkan bisa saja meninggal dunia. Saya selalu memberi semangat dan berusaha hadir ditengah-tengah mereka, meskipun tidak selalu dapat hadir secara fisik," tuturnya.

"Kegiatan tracing-testing-treatment sampai mengurus pemulasaran jenazah hingga pemakaman kami lakukan. Kami juga menyaksikan korban Covid-19 setiap hari, tangisan pilu keluarga yang ditinggalkan dengan mendadak. Beberapa teman sejawat, tenaga medis di Kabupaten dan Kecamatan-kecamatan pun akhirnya ada yang tertular, ada yang meninggal dan ada yang mengalami dampak panjang dari Covid-19 yang hingga sekarangpun masih dirasakan," tambahnya.

Namun lanjut Martina Yulianti, di sisi lain pihaknya juga kecewa dengan sebagian kecil masyarakat yang dengan sengaja membuat statement-statement terkait pandemi Covid-19 dengan versi dan pemahamannya sendiri, yang kemudian mempengaruhi masyarakat luas sehingga banyak masyarakat yang masih tidak mematuhi aturan pemerintah berkaitan dengan PROTOKOL KESEHATAN. Mereka abai terhadap resiko yang potensial menimpanya yang membawa kepiluan bagi kita semua.

"Hal yang lebih mengecewakan kami adalah sebagian dari masyarakat tidak mempercayai adanya virus ini, dengan tuduhan kondisi ini diciptakan by design sebagai bagian dari konspirasi ekonomi atau politik. Bahkan berbagai tuduhan terhadap Rumah Sakit. Kami tidak mempersoalkan keyakinan yang seperti itu. Namun perlu kami jelaskan, bahwa tenaga medis adalah kalangan profesional yang terdidik secara scientific berdasarkan logika ilmiah yang bekerja dengan Standard Operational Procedure yang terukur dan Reliable," tegasnya.

Ia menambahkan, untuk menyelesaikan atau paling tidak mereduksi resiko dari pandemi ini, adalah perlunya kerjasama dan tanggung jawab bersama pihak dalam menjalankan Protokol Kesehatan yang telah disampaikan tiada henti pada banyak publikasi dari Pemerintah ataupun NGO ataupun pihak swasta, dan masyarakat sendiri.

"Saya tidak berniat menakut-nakuti tapi itulah kondisi yang sesungguhnya kita hadapi, apakah kita suka atau tidak, apakah kita berani atau tidak. Saya ingin kita bersama melihat kondisi secara obyektif bahwa gelombang kedua berbeda dengan gelombang pertama, mari kepada masyarakat untuk tetap patuhi prokes," harapnya.

Sontak, postingan di media sosial FB dr. Martina Yulianti di akun pribadinya ini pun mendapat tanggapan dan dukungan dari masyarakat, salah satunya dari akun Mak Niken, yang memberikan semangat dan semoga kita semua dalam lindungan Allah SWT. (One/Adv )

Pasang Iklan
Top