Jembatan Lempahung Samboja Mau Roboh

Jembatan Lempahung Samboja Mau Roboh

Kondisi Jembatan Lempahung.Kondisi Jembatan Lempahung.
Photo: ist


KutaiRaya.com - 23/12/2017 23:09 WITA
Warga Kecamatan. Samboja, Kelurahan Kampung Lama, di hantui rasa ketakutan setiap kali melintasi Jembatan Lempahung, pasalnya jembatan tersebut teramcam ambruk, intensitas hujan yang cukup tinggi beberapa hari lalu membuat akses jembatan kayu sepanjang 30 meter ini terendam banjir.

Gufran, salah seorang warga yang setiap harinya melintasi jembatan lempahung sangat mengeluh dengan kondisi jembatan yang nyaris ambruk dan sering terendam banjir.

"Bagaimana cara pemerintah menanggapi ini. Apakah menunggu rusak parah dan menelan korban jiwa baru ada perbaikan," ujar Gusfran.
Hal senada disampaikan warga Kampung Lama, Saiful mengaku, jembatan hanya diperbaiki perseorangan dan kelompok tani yang kerap memakai jembatan tersebut, perbaikan selama ini dilakukan ala kadarnya saja menggunakan peralatan seadanya dengan mengikat pakai tali.

"Beberapa hari lalu, Jembatan Lempahung tersapu arus banjir lagi dan terancam roboh, Pasak jembatan kayu itu turun ke bawah. Perbaikan jembatan ini sudah dianggarkan, tapi sampai sekarang belum terealisasi," katanya.

Kondisi jembatan yang hanya bisa dilewati motor ini dan terancam ambruk, Jembatan Lempahung ini terhubung dengan kawasan transmigran 3, Desa Beringin Agung. Jembatan ini juga terhubung dengan akses Jalan Usaha Tani yang juga rusak parah.

"Kami susah bercocok tanam dengan akses jembatan yang rusak ini, begitupun mereka yang berkebun dan beternak. Sebagian petani sudah panen. Hasil panen harus diangkut pakai motor dengan cara diangsur bolek-balik, karena mobil nggak bisa lewat jalan usaha tani ini,"ucap Saiful.

Sedangkan jarak ke lokasi pertanian berkisar satu kilometer. Ia berharap Kepala Dinas Pertanian bisa turun dan memantau kondisi di lapangan, warga sekitar sudah sering mengajukan permohonan agar jalan usaha tani dan Jembatan Lempahung di Kampung Lama ini segera diperbaiki. Permohonan ini disampaikan lewat Musyawarah Rencana Pembangunan (Musrenbang) tingkat kecamatan.

""Para petani harus berjalan kaki sejauh satu kilometer, bahkan lebih, hanya untuk bercocok tanam dikarenakan kondisi jalan rusak dan tidak ada perhatian dari pemerintah dan perusahaan sekitar," tuturnya. (kr2)

 
 
Copyright © 2015 KutaiRaya.com. All rights reserved