Erau Agenda Tahunan untuk Lestarikan Adat dan Budaya

Erau Agenda Tahunan untuk Lestarikan Adat dan Budaya

Bupati Kutai Kartanegara Rita Widyasari Menarik Ketikai Lepas.Bupati Kutai Kartanegara Rita Widyasari Menarik Ketikai Lepas.
Photo: ist


KutaiRaya.com - 18/08/2016 20:33 WITA
Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura Selasa (16/8) lalu melaksanakan Upacara Adat Beluluh Sultan H Adji Muhammad Salehoeddin II di Kedaton Kesultanan Kutai.

Acara tersebut dihadiri Bupati Kutai Kartanegara Rita Widyasari, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sri Wahyuni, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Kukar Wiyono dan kerabat Kesultanan.

Bupati Kukar Rita Widyasari, mengatakan Erau menjadi agenda tahunan untuk melestarian adat, budaya Kutai, ini tak lain agar bagaimana anak kita kelak itu tahu dan mewarisi budaya yang ada di Kutai Kartanegara.

"Tujuanya saya ingin sekali pada erau ini kita akan menampilkan kurang lebih 72 grup kesenian khusus Kutai, saya ingin tidak hanya orang Kutai yang melihat tapi juga secara nasional orang-orang seluruh Indonesia dan juga Mancaneraga,"kata Rita.

Menurut Rita, warga Kukar patut berbangga, karena seni dan budaya Kutai bisa dilihat oleh orang Amerika, Eropa bahkan Rusia dan ini tentu saja membuat satu dorongan untuk supaya lebih baik lagi karena ini bertaraf Internasional, kalalu hanya disaksikan oleh warga Tenggarong khususnya Kukar nanti pakaiannya biasa saja dan tariannya biasa-biasa saja.

"Tapi begitu kita tau akan ditonton oleh Dunia Internasional penampilannya pasti akan lebih baik lagi, secara statistik yang saya lihat dari kedatangan turis atau wisatawan yang datang ke Kukar lonjakannya luar biasa, sejak 2010 saya menjabat bupati sampai saat ini lonjakannya sangat luar biasa dan inkam pendapatan dari pariwisata luar biasa juga sudah naiknya hampir tiga kali lipat," kata Rita.

Sedangkan dana di Disbudpar setiap tahunya di turunkan tujuannya adalah agar wisata ini bisa mengdokrak Pendapatan Asli Daerah (PAD) bukan pemerintah mengeluarkan biaya sebesar-besarnya untuk pariwisata tetapi bagaimana pariwisata ini akhirnya kelak akan menjadi sumber daya yang terbarukan untuk menganti suber daya yang tak terbarukan.

"Dan ini adalah salah satu cita-cita dari visi Gerbang Raja membangun Kukar Transformasi Struktur Ekonominya di lakukan melalui pariwisata dan pertanian dalam arti luas," ujar Rita.

Mudah-mudahan dalam Upacara Erau ini bisa menarik wisatawa dan memperkenalkan Kukar yang memiliki warisan yang luar biasa dari Kerajaan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, saatnya rakyat kutai mengetahui apa saja yang terjadi pada zaman kerajaan terdahulu, "Dengan rasa cinta kita terhadap leluhur Insaya Allah kita akan menjadi Negara yang bermartabat di Kalimantan Timur bermartabat di Indonesia."tutur Rita.

Seperti diketahui bahwa upacara adat beluluh berasal dari riwayatnya dimana Tanjung Ruana Kutai Lama tahun 1300, dimana terjadinya kemunculan bayi perempuan dipermukaan sungai mahakam yang pada waktu itu bayi berada diatas balai yang terbuat dari bambu kuning beralaskan kain kuning , balai tersebut timbul dari air kepermukaan sungai Mahakam yang dijunjung oleh dua ekor Lembu Suana.

Balai dan Lembu Suana tersebut dijunjung oleh dua ekor Naga Laki (Jantan) dan Bini (Betina). Bayi yang dimaksud adalah yang bernama Putri Karang Melenu Permaisuri Adji Batara Anggung Dewa Sakti, Raja pertama di Kerajaan Kutai Kartanegara. Riwayat upacara adat Beluluh dimaknakan sebagai sebagai upacara adat untuk pembersihan diri dimana diartikan sebagai seorang bayi yang baru lahir, kepada yang diluluh diatas balai.

Sejak berdiri Kerajaan Kutai Kartanegara, upacara Beluluh selalu diadakan, baik Acara Erau, Acara Perkawinan, maupun penyambutan tamu yang disesuaikan tatanan Adat menurut tingkat Kerabat Tamu dan lain-lainnya. Didalam upacara ini ada seseorang belian yang berperan mengucap "Memang (membaca mantra) memohon kepada Yang Maha Kuas kiranya yang diluluh diatas balai mendapatkan keselamatan, bijaksana dalam menjalankan tugasnya. (kr2)

 
 
Copyright © 2015 KutaiRaya.com. All rights reserved