• Rabu, 03 Juni 2020
logo
Pasang Iklan



Pasca ditemukannya mayat seorang pelajar SMK Ketopong Tenggarong di eks Kantor Dinas PU kawasan Jalan Ahmad Yani Tenggarong, Selasa (19/4) lalu, isu merebak dimasyarakat bahwa pelajar yang tewas tersebut dibunuh terlebih dahulu sebelum "digantung" dengan seutas tali, dibantah Wakapolsek Tenggarong Supandi.

Menurut Supandi, hasil kroscek secara media, korban meninggal karenan memang gantung diri, tidak ada kaitannya dengan sejumlah luka yang ada di kaki korban.”Saat kejadian, Inavis Polres menemukan sebuah kayu yang berada tak jauh dari korban, dan tiga buah puntung rokok yang ditaruh celana dalam korban,” kata Supandi, diruang kerjanya Kamis (21/4) kemarin.

Saat dilakukan visum di Rumah Sakit AM Parikesit, bahwa korban murni meninggal dengan gantung diri.”Kita juga melakukan pemeriksaan sejumlah saksi, seperti teman korban dan orang tuanya. Bahkan orang tuanya yang mengaku tinggal dibelakang kantor Kadin Jalan Jelawat, mengakui bahwa anaknya itu merupakan pencandu lem,” ungkap Supandi.

Dilokasi kejadian, biasanya dipergunakan untuk "pesta lem" bersama teman temannya. Sebelum kejadian mengenaskan itu, korban merasa malu kepada teman temanya karena belum bisa membayar uang sekolah sampai raportnya ditahan pihak sekolah.

Sementara secara terpisah pihak SMK Ketopong membantah Nelson (16) Pemuda yang baru Sekolah kelas 1 SMK Ketopong Tenggarong tersebut bunuh diri dikernakan tidak mampu membayar uang gedung sekolah sebesar Rp. 900 ribu.

Meninggalnya korban tergatung tersebut menurut pihak sekolah tidak adanya masalah denga uang gedung sekolah, tetapi. Saya tegaskan disini tidak ada pungutan biaya gedung mauapun SPP, seperti apa yang di beritakan salah satu media, .

"Saya menyayangkan ada media yang memberitakan seperti itu, tampa komfirmasi dulu ke pihak sekolah." ujar Kepala Sekolah SMK Ketopong Tenggarong, Ferry Rahman Hakim di ruanga kantor sekolah pada Rabu (12/4) pukul 12.00 Wita lalu.

Menurut Ferry uang punguta Rp 900 ribu tersebut dirincikan itu hanya membayar seragam sekolah mulai dari seragam Kejuruanya, Batik dan seragam Olahraga.

"Orang tua korban juga pernah memasukan surat tidak mampu, itu sudah masuk dan juga sudah kita usulkan untuk mendapatkan BSM (Bantuan Siswa Miskin), kita juga berupaya agar meringankan beban dengan mengeratiskan buku terhadap siswa yang tak mampu, bagi siswa yang mampu wajib membayar."Ucapnya ferry. (kr3)

Pasang Iklan Disini
Top