Bangun Masjid Agung, Gunakan Sistem Multiyears

Bangun Masjid Agung, Gunakan Sistem Multiyears

Usai pertemuan membahasa rencana perluasan dan pembangunan Masjid, menyempatkan untuk foto bersamaUsai pertemuan membahasa rencana perluasan dan pembangunan Masjid, menyempatkan untuk foto bersama
Photo: ist


KutaiRaya.com - 07/01/2016 19:35 WITA
Pembangunan dan perluasan Masjid Agung Tenggarong dipastikan akan menggunakan system multi years, sehingga dengan demikian akan memungkinkan memfasilitasi proses pembangunan tersebut dengan dana yang besar dan memadai.
Hal ini disampaikan Ketua Komisi II DPRD Kukar Junaidi SSos MSi, saat melakukan pertemuan atas rencana pembangunan Masjid Agung Tenggarong beberapa waktu lalu.

"Saat ini Kota Balikpapan juga sedang membangun Masjid yang baru dengan biaya pembangunan yang mencapai ratusan milyar melalui program Multi Years Contractnya, begitu pula dengan kabupaten Nunukan di Kaltara."katanya

Namun perlu digaris bawahi, bukan kebesaran dan kemegahan bangunan masjid itulah yang menjadi tujuan utama dari rencana pembangunan dan perluasan kompleks Masjid Agung tersebut,

"Melainkan bagaimana Kompleks Masjid Agung nantinya menjadi bagian dari fasilitas untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat Kutai Kartanegara sebagaimana motto Gerbang Raja jilid II yaitu melanjutkan Hak Rakyat Untuk Sejahtera (Harus), karena kesejahteraan bukan hanya persoalan ekonomi, melainkan juga persoalan sosial dan kebatinan masyarakatnya. " ungkap Junaidi.

Mengingat rencana pembangunan dan perluasan Kompleks Masjid Agung Tenggarong ini akan menggunakan area atau lahan yang cukup luas, mencapai kurang lebih 6 Ha, maka tentu akan dilakukan pembebasan lahan warga yang bemukim di sekitar tempat tersebut, untuk itulah diperlukan persepsi yang sama di banyak stakeholders atas rencana ini,

"Sehingga diperlukan konteks sosialisasi yang utuh dari berbagai elemen baik dari Eksekutif (khususnya pimpinan wilayah di Kecamatan dan Kelurahan) serta SKPD terkait (BPN, Adm. Pertanahan dan juga Cipta Karya), dan juga Legislatif. Dan tentunya dibantu oleh tokoh-tokoh masyarakat dan pemuka agama seperti MUI dan NU serta Muhammadiyah." Katanya.

Dengan sosialisasi yang massif dari berbagai komponen, maka diharapkan proses pembebasan lahan akan berjalan lancar tanpa hambatan atau penolakan dari warga sekitar. (boy)

 
 
Copyright © 2015 KutaiRaya.com. All rights reserved